Statement Cases for Essays

Authorship a college scholarship essay might be a daunting work, but by pursuing some easy directions it might be an excellent experience. T...

On Paper Faculty Forms, software Program...

Program itself may give you the opportunity to offer in-depth academic and occupation background. Many pupils that have occupations don't me...

The Insider Secrets for Hello World

The Insider Secrets for Hello World You will carry on to let it operate since you stop by this next report. Nothing might have assisted th...

How-to Meeting To Get A Part-Time Job

Do not be individual assaults, when you're creating on any issue which is joined to a specific section never offer remarks that may wind up ...

Publish on Juli 20th, 2017 under Category Beranda, Bisnis|Komentar Dinonaktifkan pada PHPT Diminta Tidak Kumuh dan Jorok

PHPT Diminta Tidak Kumuh dan Jorok

Jakarta, press3g.com- Terkait dengan keluhan masyarakat nelayan PHPT Muara Angke, Jakarta Utara tentang retribusi penyewaan lahan,. Kepala Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan Dinas Kelautan Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DKI Jakarta A. Kholid menjelaskan, itu hanya kesalah pahaman nelayan.

“Maksudny perda (peraturan daerah) baru tersebut, kebijakan kita adalah, retribusi kita ambil yang terendah yaitu, kenanya 2 ribu permetar, jadi kalau lahannya 150 meter maka retribusi sewanya Rp. 300 ribu perbulan. Itu maksudnya bukan permeter Rp. 300 ribu di kali 150 meter, itu salah paham” kata Hasan Samsudin dikantornya mewakili atasannya, Jumat (17/6/2016)

Lanjutnya, awalnya mencuatnya kasus ini karena ada kesalah pahaman, lalu kita mencarikan solusi berapa sih idealnya, lalu mereka (para nelayan) mengusulkan Rp. 150 ribu perbulan hitungannya Rp.1.000 permeter di kali lahan yang di pakai 150 meter. Tetapi keputusan usulan itu, bukan berada di pihak kita, nantinya usulan itu akan kami sampaikan dan oleh Tim Pengelola Keuangan Daerah atau BPKAD bagian retribusi usulan itu akan di kaji..

“Tetapi logika-nya saja orang yang indekos di Jakarta sudah berapa bayarnya, itukan lebih dari Rp. 300 ribu, lalu kalau untuk buat usaha Rp..300 ribu, masak itu tidak mampu? Lalu tentang SIP surat penunjukan yang diminta mereka, terus terang kita belum berani mengeluarkan karena retibusinya belum diselesaikan, belum di bayar. Nanti kalau sudah dibayar itu akan dikeluarkan” jelas Samsudin.

Pengolahan Hasil Perikanan Tradisional (PHPT) Muara Angke secara tradisional yang lazim dilakukan oleh masyarakat nelayan Indonesia yaitu, pengolahan ikan menjadi ikan asin, ikan pindang, ikan asap, terasi dan lain-lain.
PHPT menempati lahan seluas 4. 5 Hektar di kawasan Pelabuhan Perikanan Muara Angke Kel. Pluit. Kec. Penjaringan, Jakarta Utara. Beroperasi sejak tanggal 14 Juli 1984 berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta N0. 2263 Tahun 1984. Sayangnya PHPT ini sekarang kelihatan kumuh, kotor dan jorok.

“Kita ini orang muslim dan beriman. Lalu kalau PHPT lingkungannya tidak bersih kelihatan kumuh, kotor dan jorok dan lahannya di sewa-sewain, lalu apakah itu benar seperti itu?” kritik Samsudin sembari menyesalkan kondisi lingkungan PHPT yang sekarang ini tidak dirawat oleh para nelayan. (ri/fin)

BISNIS

Mari Belanja Sambil Beramal
Agustus 31st, 2018
Miniso Hadir Di JFW 2017
Oktober 24th, 2017

Copyright © Jurnalis Bela Negara. All Rights Reserved. Template by Press3g.com

Merdeka dan Merakyat